Perjalanan Pertama Ke Kampung Nelayan Belawan

Pada hari Minggu tepatnya tanggal 4 Maret 2018 yang lalu saya diajak seorang teman bernama Dion untuk berkunjung ke Kampung Nelayan yang ada di Belawan. Awalnya ingin menikmati minggu dengan tidur dan bermalas-malasan dirumah seharian, tapi rasanya sangat disayangkan jika tidak melakukan aktifitas yang lebih berguna dibandingkan hanya sekedar bermalas-malasan.

Pertemuanpun kami lakukan di pusat kota Medan tepatnya di Lapangan Merdeka, perjalanan ini hanya kami lakukan dengan tiga orang saja dan ini bukan liburan atau rekreasi seperti yang biasa aku lakukan, namun tujuan utama kami ke Kampung Nelayan adalah ingin meninjau lokasi tempat aksi IMMEDIA  dalam rangkaian kegiatan mengedukasi adik-adik yang ada di Kampung Nelayan. Edukasi yang nanti akan dilakukan tentunya berhubungan dengan literasi media yang saat ini masih minim dikalangan anak-anak. 

Sebelumnya menuju Kampung Nelayan, dua temanku sempatkan diri membeli bekal makanan mengingat di lokasi nanti sedikit sulit menemukan yang berjualan makanan. Cuaca saat kami berangkat sangat terik dan membuat kami harus menggunakan jaket dan topi untuk menjaga dari sengatan matahari dan membawa persediaan air minum yang cukup. Bagiku ini perjalanan pertama ke Kampung Nelayan namun tidak untuk daerah Belawan, karena ini perjalanan kedua setelah perjalanan sebelumnya aku lakukan ketika kuliah dengan tujuan Pasar Pompa (detail perjalanan dapat dibaca di SINI).

Perjalanan menuju Kampung Nelayan kami tempuh menggunakan angkutan kota (angkot) dengan nomor trayek 81 Morina. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih 1 jam ini menghabiskan biaya ongkos sebesar Rp. 7.000 sekali perjalanan. Angkutan kota ini nantinya akan berhenti di Pasar Pompa yang merupakan tujuan pertama kita. Sesampainya di Pasar Pompa, perjalanan harus kita lanjutkan dengan dua pilihan, jalan kaki atau naik becar bermotor (bentor) menuju pelabuhan penyebrangan menuju Kampung Nelayan. Jika ditempuh dengan berjalanan kaki akan memakan waktu kurang lebih 5 menit dan tidak terlalu jauh, namun dikarenakan cuaca yang sangat terik dan tidak mendukung, akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menggunakan bentor yang harus merogoh kocek sebesar Rp. 5.000 sekali perjalanan.

Sesampainya dipelabuhan, kami melanjutkan perjalanan menggunakan kapal nelayan yang sudah menjadi moda transportasi sehari-hari masyarakat Kampung Nelayan untuk menuju kota dan sebaliknya. Biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali menyebrang menggunakan kapal nelayan adalah Rp. 4.000, dengan harga tersebut kita sudah bisa menentukan ingin berlabuh didermaga sebelah mana. Awalnya aku fikir semua diturunkan di dermaga yang sama ternyata kita bisa memilih ingin berlabuh dimana sesuai dengan tujuan masing-masing yang paling dekat. 


Kami berlabuh di dekat sekolah untuk memudahkan perjalanan kami menuju taman bacaan yang sudah menjadi tujuan kami. Pada umumnya jalanan di Kampung Nelayan ini adalah papan kayu yang dibuat sedemikian rupa dengan jarak yang berkisar hampir satu meter bahkan kurang dari satu meter, jadi jika ada yang lewat secara berdampingan akan sangat menyulitkan. Selain itu juga masih banyak papan kayu yang berlubang membuat kami harus berhati-hati melewatinya. Sudah dapat dipastikan apabila berjalan sambil memainkan telepon genggam ataupun tidak fokus akan mendapatkan hadiah yang tidak diinginkan. Inilah yang dialami salah satu anak didik taman bacaan yang mengantarkan kami menuju taman bacaan. Karena keasikan mengobrol dan tidak melihat jalanan didepannya, salah satu kakinya masuk ke dalam lubang papan yang ada di jalan setapak tersebut, dengan bersusah payah kami mengeluarkan kakinya yang kecil dengan lubang yang kecil pula. Namun bagaimana pun juga aku salut dengan adik yang satu ini karena saat kakinya masuk kedalam papan kayu yang kecil itu dia tidak menangis sama sekali walaupun kakinya lecet. Mungkin karena sudah sering mengalami insiden seperti ini jadi mungkin sudah terbiasa (menurutku ya).


Selama menuju taman bacaan ini, aku memperhatikan masyarakat sekitar Kampung Nelayan hidup berdampingan dengan damai, sesekali aku melihat masyarakat yang sedang asik duduk diteras rumah sambil mengobrol seperti abis bergotong royong membangun sesuatu dan tidak sengaja aku dengar mereka baru saja selesai membangun kamar mandi salah satu rumah warga, sungguh aktfititas yang jarang aku temui di pusat kota. Dan ada hal yang mengusikku adalah mengenai sanitas dan kebersihan disini yang masih perlu menjadi perhatian bersama, baik pemerintah maupun masyarakat di Kampung Nelayan, karena satu fakta yang ku temui adalah sedari kecil adik-adik ini sudah terbiasa membuang sampah kelaut tepatnya di bawah rumah mereka sendiri, jadi tidak heran ketika aku sampai disini, dibawah rumah masyarakat ini yang notabane rumah panggung yang kita jumpai adalah tumpukan sampah bukan air. 


Pada umumnya masyarakat Kampung Nelayan menggantungkan hidupnya dari menangkap ikan, ini dapat dilihat dari aktifitas memancing yang banyak kita jumpai disini dan juga banyak hasil tangkapan ikan yang dijemur di depan ataupun teras rumah warga. Aktifitas di Kampung Nelayan ini kami habiskan kurang lebih 4 jam mulai dari aktifitas perkenalan kepada adik-adik ditaman bacaan hingga mengajarkan mereka membaca dan menulis kami lakukan. Dikarenakan perjalanan menuju kembali ke Kota Medan masih panjang dan takut kemalaman, pukul 3 siang kami putuskan untuk kembali ke Kota Medan, dengan menggunakan transportasi yang sama.


Selama melakukan perjalanan ini banyak pelajaran yang aku dapatkan dan tentunya menjadi pengalaman berharga bisa mengenal dan berbagi bersama adik-adik di Kampung Nelayan ini walaupun hanya beberapa waktu saja. Satu yang pasti, berbagilah apa yang bisa kita bagi bukan hanya melalui materi tapi juga bisa dengan ilmu yang kita miliki, karena mati itu pasti akan kita jalani tapi kita tidak boleh berhenti berbagi.  

Tips dan Catatan :

1. Kampung Nelayan bukanlah objek wisata yang bisa kamu datangi seenaknya, hargai masyarakat setempat dan usahakan untuk tahu tujuan kamu ke Kampung Nelayan ini.

2. Gunakan pakaian yang sopan dan nyaman ketika akan berkunjung ke Kampung Nelayan

3. Bawa bekal secukupnya dan air minum sebanyak-banyaknya, karena cuaca yang terik membuat dehidrasmu semakin meningkat. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s