[Project N] Series 1 – Koper

Terima kasih karena telah menjadi bagian dari cerita hidupku, aku merindukan itu – N

****

“aku sudah sampai di stasiun Tanaba ini” awalnya aku ingin memberikan kejutan, namun pesan singkat yang ku kirimkan tidak juga mendapatkan balasan, karena aku khawatir nomor yang dituju tidak aktif akhirnya aku putuskan untuk menelfonnya.

Nyambung..

“Halo, aku uda distasiun ini”

“Jangan bercanda kau..”

ternyata rencanaku berhasil untuk membuat dia terkejut, bisa ku gambarkan raut mukaknya yang tanpa dosa itu sedang kebingungan.

“ya uda kau tunggu aku jam 1 ya, aku masih praktikum ini, kau uda makan belum? kalau belum cari distasiun aja ya, banyak disitu, jangan nunggu aku nanti mati kelaparan kau”

teman macam apa itu, huft. Tapi salahku juga datang disaat yang tidak tepat (hahaha).

“jangan lama, aku gak tau daerah sini”

“iyaa”.

Aku milirik jam tangan (masih jam 12, satu jam lagi aku harus ngapain-gumamku dalam hati) aku lihat ada warung makan tidak jauh dari stasiun, karena aku membawa koper dan tas ransel yang kalau bisa dibilang seperti anak rantau yang pulang kampung jadi apa daya aku tidak bisa pergi terlalu jauh dari stasiun.

“pesan apa mas?”

Aku melihat menu yang tertempel di dinding yang ada di hadapanku, nasi nowar? hem aku pernah denger tapi gak pernah merasakannya, tapi tunggu dulu harganya 5 Ph? beneran? aku gak mimpi kan? di tempat ku harga segitu cuman dapat rengan 3 biji (makanan ringan yang dibuat dari pisang dan tepung digoreng sampai menghitam dan ukurannya hanya sebesar jempol kaki). Aku tersenyum sendiri melihat harganya, es jer 1.5 Ph? Aku ada di dunia belahan mana ini? kenapa murah sekali? GILAAK!!!

“nasi nowar sama es jer ya buk”

“oke mas”

Tempat ini cukup ramai walaupun tempatnya lumayan kecil. Aku harus menaruh ransel dan koperku di bawah meja karena jika ditaruh disebelahku akan menghalangi orang yang akan masuk memilih pesanan.

“aku lagi makan ini ya dekat stasiun, jangan lama kau datang” aku mengiriminya pesan singkat untuk mengingatkannya jika sudah sampai.

“iya, aku masih praktikum ini, jangan kemana-mana kau, susah aku nanti kalau kau hilang”

“iyaaa”

Aku mencoba mengulur waktu hingga jam satu di tempat makan ini, namun aku sudah merasa tidak enak melihat ada orang yang datang namun gak ada tempat duduk, padahal makananku sudah habis sedari tadi. Dengan terpaksa aku harus mencari tempat lain untuk menunggu. Aku kembali ke tempat semula, menunggu didepan toko pusat oleh-oleh khas Kota Nalm.

Aku perhatikan didepan toko ini banyak yang tidur dengan santai beralaskan kardus dan bersandarkan tas carrier yang berisi padat. Mereka bukanlah seorang pengemis atau orang gila, tapi sama sepertiku, liburan dengan backpacker. Hanya saja aku dengan koperku mereka dengan tas carrier nya. Sebenernya ingin rasanya koper ini ku buang dan kutinggalkan di dalam kereta api, tapi kalau bukan karena isinya yang menyangkut kehidupan ku lima hari kedepan dengan terpaksa aku harus menyeretnya kemanapun aku pergi.

Sambil menunggu temanku datang aku kembali membuka novel Keydo yang sudah hampir habis setengah halaman ku baca di dalam kereta api. Selama 16 jam perjalanan dari Kota Juen ke Kota Nalm sendiri, Keydo lah yang setia menemaniku. Aku duduk diatas koper yang ku prediksi mampu menahan berat badanku yang semakin subur sejak 3 tahun lalu.

Ahh, ternyata sudah 3 tahun lamanya aku tidak berjumpa dengannya, seperti apa bentuk mukaknya? terakhir ku lihat di media sosialnya dia tidak banyak berubah hanya saja terlihat lebih kurus, sepertinya dia tersiksa di tempat perantauan, oala teman (hahaha).

“Nichoooo”

Aku tersentak mendengar teriakan nama itu, aku lihat sekeliling ku mana tau dia sudah datang, tapi tidak ada siapa-siapa.

“aku disini woooy..”

aku lihat seseorang melambaikan tangan nya kearahku, aku coba amati ternyata benar dia.

“eh gilak, aku kira kau becanda mau kemari hahaha, sehat kau?”

“seperti yang kau lihat hahaha”

“ayo naik”

“bisa pake keret* bawa koper ini?”

“eh jangan gunakan bahasa keret disini, orang gak ngerti, ini Kota Nalm bukan Nuest haha, disini namanya moto, Sini taruh didepan kopermu”

“hahaha, iya siap bos”

“Kita ke kos ku dulu ya, naruh koper kau ini”

“iya, aku juga sudah lelah dengan koper itu”

“mau kemana kau selama disini?”

“atur aja zan hahaha”

“siap bos!!”

 

(Bersambung…)

*Keret : Alat transportasi roda dua yang ukurannya hanya muat untuk dua orang dengan berat maksimal 100KG saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s