Kala Senja Itu

Entah kenapa sore itu menjadi senja yang punya arti lebih. Kesunyian yang menyelimuti kini menjadi obrolan yang hangat dibalut masa lalu yang punya sejarah yang kembali terusik.

“Jadi kenapa kau pindah ke bandung?”

“Ada lah something”

“Ah, bandel kau kan, makanya pindah”

“Anjeeng la kau, baek aku ya” dengan celotehnya yang khas namun masih kedengaran lembut.

“hahaha cakap mu itu anak muda, jadi kenapa lah?” rasa penasaran yang menyelimuti semakin dalam.

“iya kemarin karena ada yang mau ku kejar, makanya aku pindah ke bandung”

Aku tau, ada rahasia yang berusaha dia nikmati sendiri, tapi perlahan dinding pertahanan itu pun mulai retak.

“Jadi selama di bandung tinggal sama siapa?”

“Aku tinggal sama saudara jauh bapakku, tapi hanya tiga bulan selebihnya aku ngekos”

“kenapa pindah?”

“ceritanya panjang..”

“kita punya waktu yang cukup sepertinya”  potongku

Ada lisan yang mulai tertahan, kata yang mulai dipilih untuk kembali membuka lembaran kisahnya.

“yah, awalnya mereka baik dan aku pindah ke bandung juga karena rekomendasi mereka, termasuk sekolah yang aku jalani di sana, tapi lama-lama aku tahankan ternyata enggak bisa, ada sikap mereka yang menurutku cukup fatal dan gak bisa terus aku tahankan”

“maksudnya?”

“iya, didepan bapakku mereka baik, tapi dibelakang mereka ceritain bapakku, disitu aku yang enggak suka dengan sikap mereka”

“jadi selama di bandung ngekos sendiri?”

“iya, selama dibandung aku ngekos sendiri, kebetulan kosan yang aku dapat itu pemiliknya tinggal ditempat yang sama, jadi bapakku sengaja nyari tempat kosan yang pemiliknya tinggal di tempat yang sama”

“Jadi kayak mana ngekos disana?”

“Itu kan aku pindah pas bulan puasa, jadi terasa kali memang sakitnya dan menyenagkan juga sih, karena aku memang suka ngekos sendiri, pernah lah pengalaman yang gak ku lupa itu waktu sakit meriyang teman kosanku belum pulang jadi aku naik motor la sendiri ke dokter padahal dijalan itu uda gelap kali rasanya, untungnya sampe dengan selamat hahahaha”

“gilak kali kau, jadi gimana yang dikejar tadi dapat?

“ya, karena kejadian itu selepas aku pindah dari rumah mereka gak ada lagi komunikasi dan selesai sudah sampai disitu, jadi udahlah semua jadi masa lalu, mungkin ini caranya Allah menyadarkanku”

Selama dia bercerita ada raut muka kecewa yang mulai kembali dia perlihatkan dengan tegas, namun tergambarkan jelas bahwa dia percaya masa depan ini lebih indah dan Allah telah menunjukkan jalan terbaik untuknya. Sulit rasanya mengakhiri perbincangan ini, namun harus berakhir karena waktu menunjukkan kuasanya yang begitu besar memaksa kami harus beranjak dari ruangan yang dingin ini untuk memulai cerita di lain kesempatan dan senja kembali menjadi saksi semua itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s