Pejuang Koin Dari Negeri Pora-pora

Perjalanan ini kami lakukan pada musim liburan panjang Imlek kemarin untuk berlibur ke Pulau Samosir yang ada di tengah Danau Toba, danau terbesar yang ada di Indonesia. Perjalanan kami mulai pada malam sabtu untuk menghindari macet, ternyata dugaan kami salah, disepanjang jalan menuju lokasi wisata kami terjebak macet sampai 1 jam lamanya. Namun kami nikmati dengan bercengkrama dan menikmati pemandangan malam yang membuat kami terjaga.

Perjalanan yang biasanya ditempuh 4 jam juga ternyata meleset dari dugaan awal, kami sampai di penatapan kota Parapat pada pukul 3 pagi, dan singgah sebentar di panatapan untuk menikmati suasana malam dan secangkir kopi sebagai penghilang rasa kantuk. Perjalanan kami lanjutkan 1 jam kemudian untuk menuju pelabuhan Aji Bata yang merupakan pelabuhan satu-satunya untuk menyebarang ke Pulau Samosir. Ternyata dipelabuhan sudah banyak para wisatawan yang juga ingin menghabiskan liburan panjang mereka di Pulau Samosir, jadi karena kapal penyebrangan hanya mampu mengangkut kurang lebih 30 kendaraan roda empat dan beberapa roda dua, kami pun harus rela mengantri untuk mendapatkan giliran menyebrang ke Pulau Samosir.

Kami mendapatkan urutan ke 89 dan perkiraan waktu baru berangkat sekitar pukul setengah 10 pagi. Karena jarak waktu yang begitu lama kami pun habiskan dengan menikmati pemandangan sekitar sekaligus mencari warung makan untuk sarapan pagi. Ternyata diluar dari dugaan awal, kami berangkat lebih cepat dari yang diperkirakan yakni jam setengah 9. Sebelum bisa masuk ke kapal barang, kami harus membeli tiket untuk menyebrang. Tarif yang dikenakan untuk kendaraan berbeda-beda, sesuai dengan jenis kendaraan yang digunakan. Karena kami menggunakan kendaraan roda empat jenis Kijang, tarif yang dikenakan sebesar Rp. 110.500, dan bukan hanya itu, untuk penumpang yang ada di dalam kendaraan juga dikenakan tarif sebesar Rp. 3.500/orang.

Ada pemandangan yang unik ketika kami hendak menyebrang ke Pulau Samosir. Kami melihat sekelompok anak-anak kecil berlarian untuk menyeburkan diri kedalam Danau Toba yang airnya cukup dingin. Ternyata mereka sedang menunggu para penumpang kapal untuk melemparkan koin dari atas dan mereka akan menangkap atau mengambil koin tersebut. Awalnya atraksi ini cukup berbahaya saya rasa, namun setelah memperingati dan memperhatikan, mereka sangat menikmati atraksi disetiap koin yang dilempar dan berebut mengambilnya.

Danau Toba memang memiliki sejuta keunikan, selain ikan pora-pora yang merupakan endemik di Danau Toba dan tidak akan dijumpai di daerah manapun, ternyata keunikan lainnya ada pada budaya anak-anak lokal yang begitu menikmati karunia Tuhan yang luar biasa ini. Semoga keindahan alam dan budaya yang begitu melekat di masyarakat tetap terjaga.

Tips :

  1. Jika kamu melihat anak-anak ini berenang disamping kapal, sebaiknya memberi uang kertas, karena akan lebih mudah diambil oleh mereka dan gampang untuk diambil.
  2. Jika ingin melihat anak-anak ini berenang, sebaiknya melakukan penyeberangan dari Pelabuhan Aji Bata pada pagi hari sekitar pukul 09.00-10.00 WIB.

Hanya ada dua yang wajib travelers tinggalkan di tempat wisata, KENANGAN dan JEJAK KAKI, SALAM TRAVELER ULUNG 🙂

Advertisements

One thought on “Pejuang Koin Dari Negeri Pora-pora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s